27.5.13

Hanya memberi, Tak harap kembali

Hari ini gue ujian agama, ujian nya semcam interview gityuu~ tepatnya sih gini bikin makalah, ntar dosennya nya nanya-nanya seputar makalah yang di bikin, nah tiba di giliran gue ditanya, dosennya bingung kenapa punya gue cuma 3 halaman sedangkan yang lain gak ! trus kenapa judulnya seperti nyanyi kasih ibu ? secara gitu kan judul makalah gue, "hanya memberi, tak harap kembali" maksudnya bukan tentang seorang ibu yang sayang pada anak-anaknya melainkan lebih ke sedekah gityu~ ahaha
begini isi makalahnya semoga suka :)
Hanya Memberi , Tak Harap Kembali
Saya, Annisa Rahmah 18 tahun. Selama 18 tahun itulah saya melihat kehidupan disekitar saya. Saya memulai jenjang pendidikan dari taman kanak-kanak hingga masuk universitas. Disana saya belajar yang namanya agama islam disamping orang tua saya yang mengajarkannya. Ketika TK, saya hanya diajarkan bagaimana solat, puasa, dll. Saat masuk SD saya diajarkan berbagai macam tingkah laku yang harus dilakukan dan yang harus dihindarkan dalam ajaran islam. Contoh tngkah laku yang harus dilakukan adalah berbuat baik kepada orang tua, menolong sesama, dll. Sedangkan hal yang harus di hindari adalah berbuat jahat, baik kepada orang tua, guru, maupun teman sebaya. Ketika di madrasah tsanawiyah, saya mulai mendalami ajaran agama islam, begitu seterusnya sampai madrasah aliyah.
Mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang ajaran agama islam, membuat saya semakin takjub akan kebesaran Allah SWT. Mungkin sebagian orang hanya menyadari kekuasaan allah hanya ada pada disekitarnya. Bagi saya tidak, kekuasaan Allah SWT ada dimana-mana. Baik di dalam diri kita maupun di lingkungan sekitar kita. Allah SWT memberi semua itu ada tujuannya. Kali ini saya mengambil judul “Hanya Memberi , Tak Harap kembali” karena sebagaimana yang kita ketahui allah mempunyai nama Ar-Rahman yang artinya Maha Pengasih. Yang maknanya  segala sesuatunya diberi atau dikasih oleh Allah. Sesuatu yang sudah diberikan akan menjadi milik si penerima. Sebagai contoh bila A memberikan Kue kepada B, maka kue tersebut menjadi milik B. Terserah pada B apakah kue itu hendak dimakan, B mempunyai kebebasan atas kue tersebut (karena kue tersebut sudah menjadi miliknya). A tidak dapat turut campur lagi atas kepemilikan kue tersebut dan tidak berhak mengambil kembali apalagi dilakukan secara paksa.
Dalam hal ini, saya mengaplikasikannya kedalam kehidupan saya, dimana selama 18 tahun saya melihat kehidupan saya. Disekitar saya ada orang-orang yang tidak mampu baik secara lahir maupun bathin. Pernah suatu ketika saya pergi kepasar dengan orang tua saya, saya melihat para pengemis duduk dijalanan sambil meminta-minta, ada yang karena cacat, sakit dan gak ada biaya, dll. Hati saya tergerak untuk memberi mereka sebagian uang yang saya miliki. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat muslim : (Al yadul ulya khairun minal yadis suflaa (HR Muslim) Artinya: Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah ) .
Dimana orang yang memberi lebih baik daripada orang yang meminta-minta. Namun timbul pertanyaan dalam diri saya, “kalau orang itu meminta karena mereka emang gak punya, apa hukumnya dan apa kaitannya dalam hadis tersebut?” karena masih penasaran lalu saya menanyakannya pada ustad di sekolah saya, lalu beliau menjawab “didalam hidup kita, ada orang yang emang dilebihkan rezkinya oleh Allah dan ada orang yang rezki nya memang belum cukup, berhubung orang itu rezkinya lebih. Contohnya Si A adalah orang yang mampu, sedangkan Si B adalah orang yang kekurangan. Karena si A adalah orang yang mampu maka si A wajib menolong si B, karena kita hidup di dunia ini gak sendirian dan harus tolong menolong, hubungannya dalam hadis ini adalah Si A akan mendapatkan pahala karena si A telah berusaha menolong si B, dan Si B karena kekurangan jangan hanya menjadi orang yang selalu dikasihani, tetaplah berusaha”.
Dengan penjelasan ustad tersebut, saya selalu mengaplikasikannya dalam kehidupan saya. Namun dalam hal ini kita harus ikhlas, sebagaimana yang kita ketahui makna dari ikhlas itu sendiri adalah niat semata-mata karena mengharapkan ridha Allah SWT. Dalam kata lain, saya memberi tidak mengharapkan imbalan dari mereka melainkan ridha Allah SWT. Seperti yang dijelaskan dalam surat An-nisa’ ayat 146

Artinya : Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.
Tulus ikhlas mengerjakan sesuatu karena Allah dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar. Oleh karena itu, jika kita memberi sebagian harta kita kepada orang lain semata-mata hanya karena Allah, maka Allah akan memberi kita pahala yang besar. Namun, nikmat Allah yang saya rasakan ketika saya memberi sedikit rezki saya kepada orang yang tidak mampu itu Allah membalasnya dengan balasan yang tak terduga. Contohnya, ketika dalam perjalanan menuju rumah, ada orang yang meminta-minta di dekat lampu merah. Saya kasihan melihat kondisi orang itu, uang saya saat itu hanya Rp5000,- gak ada lagi cadangannya didalam dompet saya, saya berpikir, Sepertinya orang ini lebih membutuhkan daripada saya, lalu saya memberikan dengan ikhlas uang tersebut. Sekarang uang saya gak ad lagi, ketika sampai dirumah kebetulan paman saya datang, dan dia minta tolong membelikan rokok ke kedai dan memberikan uang Rp100.000,- lagi, dalam menolong seseorng kita juga harus ikhlas. Saya membelikan paman saya rokok kekedai dengan ikhlas, ternyata ada uang kembaliannya. Lalu saya memberikan rokok dan uang kembaliannya kepada paman saya tersebut, setelah itu paman saya ngasih uang Rp50.000,- karena udah bantu  paman beli rokok.
Dan Alhamdulillah, nikmat Allah benar-benar nyata. Sebagaimana yang dijelaskan dalam dalil dibawah ini :

Artinya : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.(Q.S Al Baqarah : 261).
            Oleh karena itu, setiap melakukan perbuatan semata-mata hanya karena Allah SWT tanpa mengrapkan imbalan dari siapapun maka Allah akan melipatgandakan Setiap kebaikannya. Jika kita mempunyai harta yang berlebih, jangan takut memberikannya kepada orang yang lebih membutuhkannya. Karena sesungguhnya orang yang menumpuk dan menghitung-hitung hartanya adalah orang yang tercela. Allah akan menghukum mereka sebagaimana yang dijelaskan dalam Q.S Al-humazah : 1-9

Artinya : Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,  yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung , dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,  sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?,  (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.
Dan semoga nilai UAS gue memuaskan :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar